Senin, 11 April 2016

Konsep Sehat: Carl Rogers

Nama: Resti Anugrahsari
NPM: 19514092
Kelas: 2PA08




Carl. R Rogers
Carl Rogers adalah seorang psikolog yang terkenal dengan pendekatan terapi klinis yang berpusat pada klien (client centered). Rogers kemudian menyusun teorinya dengan pengalamannya sebagai terapis selama bertahun-tahun. Teori Rogers mirip dengan pendekatan Freud, namun pada hakikatnya Rogers berbeda dengan Freud karena Rogers menganggap bahwa manusia pada dasarnya baik atau sehat. Dengan kata lain, Rogers memandang kesehatan mental sebagai proses perkembangan hidup alamiah, sementara penyakit jiwa, kejahatan, dan persoalan kemanusiaan lain dipandang sebagai penyimpangan dari kecenderungan alamiah.
Rogers terkenal sebagai seorang tokoh psikologi humanis, aliran fenomenologis eksistensial, psikolog klinis dan terapis, ide-ide dan konsep teorinya banyak didapatkan dalam pengalamanpengalaman terapeutiknya. Ide pokok dari teori – teori Rogers yaitu individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup, dan menangani masalah–masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri.
Orang yang sehat menurut Rogers adalah orang yang bisa mengaktualisasikan dirinya. Aktualisasi diri terjadi berkesinambungan, tidak statis. Aktualisasi diri adalah suatu proses yang sulit dan terkadang menyakitkan. Berkembangnya konsep diri yang sehat tergantung dari pengalman masa kecil anak akan pnerimaan dan cinta kasih (ibu).
Rogers percaya bahwa orang-orang yang dibimbing oleh persepsi sadar mereka sendiri tentang diri mereka dan dunia sekitar mereka bukan oleh kekuatan-kekuatan tidak sadar yang tidak dapat mereka kontrol.
Menurut Rogers, manusia yang sadar dan rasional tidak dikendalikan oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak, seperti pembiasaan akan kebersihan, penyapihan yang lebih cepat, dsb. Akan tetapi Rogers mengemukakan bahwa pengalaman-pengalaman masa silam dapat mempengaruhi cara bagaimana kita melihat kehidupan sekarang yang pada masanya mempengaruhi tingkat kesehatan psikologis kita. Jadi, pengalaman masa kanak-kanak adalah penting, tapi fokus Rogers tetap pada apa yang terjadi sekarang bukan pada apa yang terjadi waktu itu. Rogers dikenal juga sebagai seorang fenomenologis, karena ia sangat menekankan pada realitas yang berarti bagi individu. Realitas tiap orang akan berbeda–beda tergantung pada pengalaman–pengalaman perseptualnya. Lapangan pengalaman ini disebut dengan fenomenal field. Rogers menerima istilah self sebagai fakta dari lapangan fenomenal tersebut.

Diri dan Aktualisasi Diri
                Menurut Rogers (1959), bayi mulai mengembangkan konsep diri yang samar saat sebagian pengalaman mereka telah dipersonalisasikan dan dibedakan dalam kesadaran pengalaman sebagai “aku” (“I”) atau “diriku” (“me”).
Saat bayi telah membangun struktur diri yang mendasar, kecenderungan mereka untuk aktualisasi mulai berkembang. Aktualisasi diri (self-actualization) merupakan bagian dari kecenderungan aktualisasi sehingga tidak sama dengan kecenderungan itu sendiri. Kecenderungan aktualisasi merujuk pada pengalaman organisme dari individu; sehingga hal tersebut merujuk pada manusia secara keseluruhan – kesadaran dan ketidaksadaran, fisiologis dan kognitif.

Motivasi Orang yang Sehat: Aktualisasi
Menurut Rogers motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri. Rogers menempatkan suatu dorongan -“satu satu kebutuhan fundamental”-dalam sistemnya tentang kepribadian : memeliharakan, mengaktualisasikan, meningkatkan semua segi individu. Kecenderungan ini dibawa sejak lahir dan meliputi komponen-komponen pertumbuhan fisiologis dan psikologis, meskipun selama tahun-tahun awal kehidupan, kecenderungan tersebut lebih terarah kepada segi-segi fisiologis. Kecenderungan aktualisasi memungkinkan organisme hidup terus dengan membantu dan mepertahankan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah dasar.
Akan tetapi aktualisasi berbuat jauh lebih banyak daripada mempertahankan organisme; aktualisasi juga memudahkan dan meningkatkan pematangan dan pertumbuhan. Kecenderungan aktualisasi pada tingkat fisiologis benar-benar tidak dapat diekakang; kecenderungan itu mendorong individu ke depan dari salah satu tingkat pematangan ke tingkat pematangan berikutnya yang memaksakanya untuk menyesuaikan diri dan tumbuh.
Rogers percaya bahwa manusia memiliki dorongan yang dibawa sejak lahir untuk menciptakan dan bahwa hasil ciptaan yang sangat penting adalah diri orang sendiri, suatu tujuan yang dicapai jauh lebih sering oleh orang-orang yang sehat daripada orang-orang yang sakit secara psikologis.


Konsep Diri
Konsep diri (self concept) menurut Rogers adalah bagian sadar dari ruang fenomenal yang disadari dan disimbolisasikan, dimana “aku“ merupakan pusat referensi setiap pengalaman. Konsep diri merupakan bagian inti dari pengalaman individu yang secara perlahan dibedakan dan disimbolisasikan sebagai bayangan tentang diri yang mengatakan “apa dan siapa aku sebenarnya“ dan “apa yang sebenarnya harus saya perbuat“. Jadi, self concept adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku.
Konsep diri ini terbagi menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep diri ideal. Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak, Rogers mengenalkan 2 konsep lagi yaitu:
a.      Incongruence
Incongruence adalah ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan batin.
b.      Congruence
Congruence berarti situasi dimana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan sejati.

Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang lain. Perkembangan diri dipengaruhi oleh cinta yang diterima saat kecil dari seorang ibu. Kebutuhan ini disebut need for positive regard, yang terbagi lagi menjadi 2 yaitu conditional positive regard (bersyarat) dan unconditional positive regard (tak bersyarat).
·         Jika individu menerima cinta tanpa syarat, maka ia akan mengembangkan penghargaan positif bagi dirinya (unconditional positive regard) dimana anak akan dapat mengembangkan potensinya untuk dapat berfungsi sepenuhnya.
·         Jika tidak terpenuhi, maka anak akan mengembangkan penghargaan positif bersyarat (conditional positive regard). Dimana ia akan mencela diri, menghindari tingkah laku yang dicela, merasa bersalah dan tidak berharga.
Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positif tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan.

Orang yang Berfungsi Sepenuhnya
Hal yang pertama dikemukakan tentang versi Rogers mengenai kepribadian yang sehat, yakni kepribadian yang sehat itu bukan merupakan suatu keadaan dari ada, melainkan dari proses, “suatu arah bukan sutu tujuan”.
Hal kedua mengenai aktualisasi dir yaitu merupakan suatu proses yang sukar dan terkadang menyakitkan. Hal ketiga yaitu mengeni orang-orang yang mengaktualisasikan diri, yakni mereka benar-benar adalah diri mereka sendiri.
Rogers mengemukakan lima sifat khas dari seseorang yang berfungsi penuh:
a.       Keterbukaan pada Pengalaman
Keterbukaan pada pengalaman adalah lawan dari sikap defensif. Bahwa kepribadian seseorang itu bersifat fleksibel, tidak hanya mau menerima pengalaman-pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, tetapi juga dapat menggunakannya dalam membuka kesempatan-kesempatan persepsi dan ungkapan baru. Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat dikatakan lebih “emosional” dalam artian bahwa ia mengalami banyak emosi yang bersifat positif dan negatif dan mengalami emosi-emosi itu lebi kuat dibandingkan orang yang defensif.
b.      Kehidupan Eksistensial
Orang yang sehat terbuka kepada semua pengalaman, maka kepribadian terus-menerus disegarkan oleh setiap pengalaman-pengalaman, sedangkan orang defensif harus mengubah suatu pengalaman baru untuk membuatnya harmonis dengan diri. Orang yang tidak mudah berprasangka ataupun memanipulasi pengalaman melainkan menyesuaikan diri karena kepribadiannya terus-menerus terbuka kepada pengalaman baru.
c.       Kepercayaan Terhadap Organisme Orang Sendiri
Seseorang akan Bertingkah laku menurut apa yang dirasa benar, merupakan pedoman yang sangat diandalkan dalam memutuskan suatu tindakan yang lebih dapat diandalkan daripada faktor-faktor rasional atau intelektual. Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat bertindak menurut impuls-impuls yang timbul seketika dan intuitif.
d.      Perasaan Bebas
Rogers percaya bahwa semakin seseorang sehat secara psikologis, semakin juga ia mengalami kebebasan untuk memilih dan bertindak. Orang yang sehat dapat memilih dengan bebas tanpa adanya paksaan-paksaan antara alternatif pikiran dan tindakan.
e.       Kreativitas
Semua orang yang berfungi sepenuhnya sangat kreatif. Orang-orang yang kreatif dan spontan tidak terkenal karena konformitas atau penyesuaian diri yang pasif terhadap tekanan-tekanan sosial dan kultural. Seorang yang kreatif bertindak dengan bebas dan menciptakan hidup, ide dan rencana yang konstruktif, serta dapat mewujudkan kebutuhan dan potensinya secara kreatif dan dengan cara yang memuaskan.




DAFTAR PUSTAKA
Schultz, D. (1991). Psikologi Pertumbuhan: Model-Model Kepribadian Sehat. Yogyakarta: PT Kanisius.

Feist, J., Feist, G.J. (2011). Teori Kepribadian/Buku 2. Jakarta: Salemba Humanika.





Konsep Sehat : Allport

Nama: Resti Anugrahsari
NPM: 19514092
Kelas: 2PA08



Gordon Allport
Allport mengakui bahwa masa kanak-kanak mempunyai andil dalam mewujudkan pribadi yang sehat, hanya saja hubungan itu tidak bersifat fungsional yang berkesinambungan. Menurut Allport peranan orang tua (ibu) mempengaruhi perkembangan proprium anak. Jika seorang anak mendapat kasih sayang yang cukup, perasaan aman, akan menumbuhkan identitas diri dan diri akan meluas. Demikian pula jika seorang anak yang dibesarkan dalam kondisi tidak aman, agresif, penuh tuntutan, egosentris, pertumbuhan psikologisnya berkurang. Sebagai seorang dewasa, orang itu akan dikontrol oleh dorongan masa kanak – kanak dan oleh keinginan dan konflik dan mungkin mengembangakan suatu bentuk sakit jiwa.
Menurut Allport, individu-individu yang sehat dikatakan mempunyai fungsi yang baik pada tingkat rasional dan sadar. Menyadari sepenuhnya kekuatan-kekuatan yang membimbing mereka dan dapat mengontrol kekuatan-kekuatan itu juga.
Kepribadian yang matang tidak dikontrol oleh trauma-trauma dan konflik-konflik masa kanak-kanak. Dimana orang-orang yang neurotis terikat dan terjalin erat pada pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak, berbeda dengan orang-orang yang sehat yang bebas dari paksaan-paksaan masa lampau. Pandangan orang sehat adalah ke depan, kepada peristiwa-peristiwa kontemporer dan peristiwa-peristiwa yang akan datang, dan tidak mundur kembali kepada peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak.
Segi pandangan yang sehat ini memberi jauh lebih banyak kebebasan dalam memilih dan bertindak. Orang yang matang dan sehat juga akan terus menerus membutuhkan motif-motif kekuatan dan daya hidup yang cukup untuk menghabiskan energi-energinya. Pada tahap perkembangan manapun, setiap individu harus menemukan minat-minat dan impian-impian baru. Energi tersebut harus diarahkan pada setiap tahap agar mencapai suatu kepribadian yang sehat. Contohnya seorang remaja membutuhkan penyaluran-penyaluran atas energinya agar terhindar dari kepribadian yang tidak sehat. Energi itu harus menemukan jalan keluar, dan apabila energi tidak diungkapkan secara konstruktif maka mungkin energi akan dilepaskan secara destruktif. Dimana beberapa anak yang kekurangan tujuan-tujuan yang berarti dan konstruktif untuk menghabiskan energi mereka, menyebabkan masalah kenakalan.
Dorongan yang bersifat konstruktif adalah sangat penting bagi orang-orang yang sehat secara psikologis. Orang-orang yang demikian mengejar secara aktif tujuan-tujuan, harapan-harapan, dan impian-impian, dan kehidupan mereka dibimbing oleh suatu perasaan akan maksud, dedikasi, dan komitmen. Pengejaran terhadap suatu tujuan tidak pernah berakhir; apabila suatu tujuan harus dibuang, maka suatu motif yang baru harus cepat dibentuk. Orang yang sehat melihat ke masa depan dan hidup dalam masa depan.

MOTIVASI PADA PRIBADI YANG SEHAT
   Allport menyakini bahwa kebanyakan orang termotivasi oleh dorongan yang dirasakannya daripada dengan kejadian-kejadian yang terjadi pada masa lalu, serta menyadari apa yang mereka lakukan dan mempunyai pengetahuan atas alasan mengapa mereka melakukannya.
   Allport juga menyatakan bahwa teori motivasi harus mempertimbangkan pula perbedaan antara motif sekunder (peripheral motives) dan usaha kuat yang bersifat sentral (propriate strivings). Motif sekunder adalah motif-motif yang menurunkan kadar tekanan sementara usaha kuat yang bersifat sentral yaitu untuk mempertahankan kadar tekanan dan kondisi disekuilibrium.
Allport berpendapat bahwa kepribadian yang sehat tidak dibimbing oleh kekuatan-kekuatan tidak sadar atau pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Manusia yang sehat memiliki kebutuhan terus-menerus akan variasi, akan sensasi-sensasi dan tantangan-tantangan baru. Mereka tidak suka akan hal-hal yang rutin dan mereka mencari-cari pengalaman-pengalaman baru.
Allport percaya bahwa dorongan dari semua orang yang sehat adalah sama, orang yang sehat didorong ke depan oleh suatu visi masa depan dan visi itu memperstukan kepribadian dan membawa orang itu kepada tingkat-tingkat tegangan yang bertambah.

“DIRI” DARI ORANG YANG SEHAT
Proprium
Proprium digunakan Allport sebagai istilah perilaku dan karakteristik yang di anggap sesuatu yang penting, sentral, dan, hangat dalam kehidupan. Proprium bukanlah seluruhnya dalam kepribadian karena banyak dari perilaku seseorang yang tidak hangat dan sentral. Ada tujuh aspek dalam  perkembangan proporium :
a.       Bodily Self : tahap 1-3.Pada 3 tahun pertama, bayi menjadi lebih peduli terhadap      keberadaan dirinya dan membedakan tubuhnya dari objek-objek yang ada disekitarnya.
b.      Self Identity : anak-anak membuktikan dan menemukan identitas mereka tetap terlepas dari perubahan di lingkungan mereka.
c.       Self-esteem : anak-anak mulai bangga pada prestasi (pencapaian) yang mereka raih.
d.      Extension of self : tahap ke 4-5. umur 4 sampai 6 tahun. Pada masa ini anak mengakui objek-objek yang ada di sekitarnya dan orang-orang disekitar lingkungan mereka.
e.       Self-image : anak-anak mengembangkan gambaran aktual dan idealis dalam diri mereka dan perilaku mereka serta menjadi lebih peduli terhadap kepuasan (atau ketidakpuasan) terhadap harapan Orangtua.
f.       Self as a rational coper : tahap 6. Umur 6-12 tahun, anak-anak mulai mengapli-kasikan alasan dan pengetahuan untuk mencapai solusi terhadap masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
g.      Propriate striving : tahap 7. pada masa remaja awal (sebelum teenage)  mulai membentuk tujuan jangka panjang dan rencana.
Perilaku yang tidak bersifat proprium meliputi:
a.       Dorongan dan kebutuhan dasar yang biasanya dapat dipenuhi dan terpuaskan tanpa banyak keulitan
b.      Kebiasaan-kebiasaan umum, seperti menggunakan pakaian
c.       Perilaku sehari-hari, seperti menggosok gigi, yang dilakukan secara otomatis dan tidak krusial dalam pembentukan rasa diri seseorang.


CIRI PRIBADI YANG SEHAT
Gordon Allport (1937) membuat hipotesis tentang sifat-sifat kepribadian yang dewasa. Beberapa asumsi umum di butuhkan agar kita bisa memahami konsepsi Allport tentang pribadi yang dewasa:
a.         Pribadi yang dewasa secara psikologis dicirikan oleh sikap proaktif, yaitu tidak hanya bereaksi kepada stimuli eksternal, tetapi juga sanggup bertindak dengan sadar terhadap lingkungannya dengan cara-cara yang baru dan inovatif, sehingga lingkungan pun bereaksi kepada mereka juga.
b.         Kepribadian yang dewasa tampaknya lebih termotivasikan oleh proses-proses sadar dari pada kepribadian yang terdistorsi, menjadikan mereka lebih fleksibel dan mandiri dari pada pribadi sehat yang masih terus di dominasioleh motif-motif bawah sadar yang muncul dari pengalaman masa kanak-kanak. Individu yang sehat secara psikologis adalah pribadi unik bukan karena tidak pernah berbuat kekeliruan dan kesalahan.


KRITERIA KEPRIBADIAN YANG MATANG
Tujuh kriteria kematangan ini merupakan pandangan-pandangan Allport tentang sifat-sifat khusus dari kepribadian sehat.

1. Perluasan Perasaan Diri
Ketika diri berkembang, maka diri itu meluas menjangkau banyak orang dan benda. Mula-mula diri berpusat hanya pada individu. Kemudian ketika lingkaran pengalamn-pengalaman bertumbuh maka diri bertambah luas meliputi nilai-nilai dan cita-cita yang abstrak. Dengan kata lain ketika orang menjadi matang, dia mengembangkan pehatian-perhatian di luar diri. Orang harus menjadi partisipan yang langsung dan penuh. Allport menamakan hal ini “partisipasi otentik yang dilakukan oleh orang dalam beberapa suasana yang penting dari usaha manusia”. Orang harus meluaskan diri ke dalam aktivitas. Dalam pandangan Allport, suatu aktivitas harus relevan dan penting bagi diri; harus berarti sesuatu bagi orang itu.
Kita mengetahui bahwa ada kemungkinan mengerjakan sesuatu secara aktif tanpa merasakan suatu keterlibatan pribadi yang otentik atau perasaan partisipasi. Dalam pandangan Allport, suatu aktivitas harus relevan dan penting bagi diri. Apabila anda mengerjakan suatu pekerjaan karena anda percaya bahwa pekerjaan itu penting, karena pekerjaan itu menantang kemampuan-kemampuan anda, atau karena mengerjakan pekerjaan itu dengan sebaik-baiknya membuat anda merasa enak, maka anda merupakan seorang partisipan yang otentik dalam pekerjaan itu. Aktivitas itu lebih berarti bagi anda daripada pendapatan yang diperoleh; aktivitas itu memuaskan kebutuhankebutuhan lain juga.
Semakin seseorang terlibat sepenuhnya dengan berbagai aktivitas atau orang atau ide, maka semakin juga dia akan sehat secara psikologis. Perasaan partisipasi otentik ini berlaku bagi pekerjaan kita, hubungan dengan keluarga dan teman-teman, kegemaran, dan keanggotaan kita dalam politik dan agama.

2. Hubungan Diri yang Hangat dengan Orang-orang Lain
Allport membedakan dua macam kehangatan alam hubungan dengan orang-orang lain; kapasitas untuk keintiman dan kapasitas untuk perasaan terharu. Orang yang sehat secara psikologis mampu memperlihatkan keintiman (cinta) terhadap orangtua, anak, partner, teman akrab. Orang mengungkapkan paritisapi otentik dengan orang yang dicintai dan memperlihatkan kesejahteraannya; hal ini sama pentingnya dengan kesejahteraan individu sendiri. Syarat lain bagi kapasitas untuk keintiman adalah suatu perasaan identitas diri yang berkembang dengan baik.
Ada perbedaan antara hubungan cinta dari orang-orang yang neurotis dengan hubungan cinta dari kepribadian-kepribadian yang sehat. Orang yang neurotis harus menerima cinta jauh lebih banyak daripada kemampuan mereka untuk memberinya. Apabila mereka memberi cinta, maka cinta itu diberikan dengan syarat-syarat dan kewajiban-kewajiban yang bersifat timbal balik. Cinta dari orang–orang yang sehat adalah tanpa syarat, tidak melumpuhkan atau mengikat. Perasaan terharu, tipe kehangatan yang kedua adalah suatu pemahaman tentang kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan dengan semua bangsa.
Orang yang sehat memiliki kapasitas untuk memahami kesakitan-kesakitan, penderitaanpenderitaan, ketakutan-ketakutan, dan kegagalan-kegagalan yang merupakan ciri kehidupan manusia. Empati itu timbul melalui “perluasan imajinatif” dari perasaan orang sendiri terhadap kemanusiaan pada umumnya.
Kepribadian yang matang sabar terhadap tingkah laku orang-orang lain dan tidak mengadili atau menghukumnya. Orang-orang yang sehat menerima kelemahan kelemahan manusia.

3. Keamanan Emosional
Sifat dari kepribadian yang sehat ini meliputi beberapa kualitas; kualitas utama adalah penerimaan diri. Kepribadian-kepribadian yang sehat mempu menerima semua segi dari ada mereka, termasuk kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekuarangan tanpa menyerah secara pasif pada kelemahan-kelemahan tersebut. Orang sehat mampu hidup dengan ini dan segi-segi lain dalam kodrat manusia, dengan sedikit konflik dalam diri mereka atau dengan masyarakat. Mereka berusaha bekerja sebaik mungkin dan dalam proses mereka berusaha memperbaiki diri mereka.
Kepribadian-kepribadian yang sehat juga mampu menerima emosiemosi mereka, mereka bukan tawanan dari emosi-emosi mereka, dan mereka juga tidak berusaha bersembunyi dari emosi-emosi itu. Kepribadian yang sehat mengontrol emosi-emosi mereka. Orang yang neurotis, menyerah pada emosi apa saja yang dominan pada saat itu. Berkali-kali memperlihatkan kemarahan atau kebencian, betapapun perasaan-perasaan itu mungkin tidak tepat.
Kualitas lain dari keamanan emosional ialah apa yang disebut Allport “sabar terhadap kekecewaan”. Orang yang sehat sabar menghadapi kemunduran-kemunduran; mereka tidak menyerahkan diri kepada kekecewaan, tetapi mampu memikirkan cara-cara yang berbeda, yang kurang menimbulkan kekecewaan untuk mencapai tujuan-tujuan yang sama atau tujuan-tujuan substitusi.
Orang-orang yang sehat tidak bebas dari perasaan-perasaan tidak aman dan ketakutan-ketakutan, tetapi mereka merasa kurang terancam dan dapat menanggulangi perasaan-perasaan tersebut lebih baik daripada orang-orang yang neurotis.

4. Persepsi Realistis
Orang-orang yang sehat memandang dunia mereka secara objektif. Sebaliknya orang yang neurotis kerapkali harus mengubah realitas supaya membuatnya sesuai dengan keinginan-keinginan, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan mereka sendiri.
Orang-orang yang sehat tidak perlu percaya bahwa orang-orang lain atau situasi-situasi semuanya jahat atau semuanya baik menurut suatu prasangka pribadi terhadap realitas. Mereka menerima realita sebagaimana adanya.

5. Keterampilan-keterampilan dan Tugas-tugas
Allport menekankan pentingnya pekerjaan dan perlunya menenggelamkan diri sendiri di dalamnya. Keberhasilan dalam pekerjaan menunjukkan perkembangan keterampilan-keterampilan dan bakat-bakat tertentu suatu tingkat kemampuan.
Allport mengemukakan bahwa ada kemungkinan orang-orang yang memiliki ketrampilan-ketrampilan menjadi neurotis. Akan tetapi tidak mungkin menemukan orang-orang yang sehat dan matang yang tidak mengarahkan ketrampilan mereka pada pekerjaan mereka. Komitmen dalam orang-orang yang sehat begitu kuat sehingga mereka sanggup menenggelamkan semua pertahanan yang berhubungan dengan ego dan dorongan (seperti kebanggaan) ketika mereka terbenam dalam pekerjaan.
Dedikasi terhadap pekerjaan ini ada hubungannya dengan gagasan tentang tanggung jawab dan dengan kelangsungan hidup yang positif. Pekerjaan dan tanggung jawab memberikan arti dan perasaan konstinuitas untuk hidup. Tidak mungkin mencapai kematangan dan kesehatan psikologis yang positif tanpa melakukan pekerjaan yang penting dan melakukan dengan dedikasi, komitmen, dan keterampilan-keterampilan.

6. Pemahaman Diri
Usaha untuk mengetahui diri secara objektif mulai pada awal kehidupan dan tidak akan pernah berhenti, tetapi ada kemungkinan mencapai suatu tingkat pemahaman diri tertentu yang berguna dalam setiap usia. Kepribadian yang sehat mencapai suatu tingkat pemahaman diri yang lebih tinggi daripada orang-orang yang neurotis.
Pengenalan diri yang memadai menuntut pemahaman tentang hubungan/perbedaan antara gambaran tentang diri yang dimiliki seseorang dengan dirinya menurut keadaan yang sesungguhnya. Semakin dekat hubungan antara kedua gagasan ini, maka individu juga semakin matang. Hubungan lain yang penting adalah hubungan antara apa yang dipikirkan orang-orang lain tentang dirinya itu. Orang yang sehat terbuka pada pendapat orang-orang lain dalam merumuskan suatu gambaran diri yang objektif.
Orang yang memiliki suatu tingkat pemahaman diri (selfobjectification) yang tinggi atau wawasan diri tidak mungkin memproyeksikan kualitas-kualitas pribadinya yang negatif kepada orang lain. Orang itu akan menadi hakim yang seksama terhadap orang-orang lain, dan biasanya dia diterima dengan lebih baik oleh orang-orang lain.
Allport juga mengemukakan bahwa orang yang memiliki wawasan diri yang lebih baik adalah lebih cerdas daripada orang yang memiliki wawasan diri yang kurang. Selain itu, terdapat korelasi yang tinggi antara tingkat wawasan diri dan perasaan humor, yakni tipe humor yang menyangkut persepsi tentang hal-hal yang aneh dan hal-hal yang mustahil serta kemampuan untuk menertawakan diri sendiri. (Allport membedakan humor ini dari humor komik kasar yang menyangkut seks dan agresi).

7. Filsafat Hidup yang Mempersatukan
Orang-orang yang sehat melihat ke depan, didorong oleh tujuantujuan dan rencana-rencana jangka panjang. Orang-orang ini mempunyai suatu perasaan akan tujuan, suatu tugas untuk bekerja sampai selesai, sebagai batu sendi kehidupan mereka, dan ini memberi kontinuitas bagi kepribadian mereka.
Allport menyebut dorongan yng mempersatukan ini “arah” (directness). Arah ini membimbing semua segi kehidupan seseorang menuju suatu tujuan atau rangkaian tujuan) serta memberikan orang itu suatu alasan untuk hidup. Tanpa tujuan kita mungkin akan mengalami masalah-masalah kepribadian. Mustahil memiliki suatu kepribadian yang sehat tanpa aspirasi-aspirasi dan arah ke masa depan.
Mungkin kerangka untuk tujuan-tujuan khusus itu adalah ide tentang nilai-nilai. Allport menekankan bahwa nilai-nilai (bersama dengan tujuan-tujuan) adalah sangat penting bagi perkembangan suatu filsafat hidup yang mempersatukan. Seorang individu dapat memilih di antara berbagai nilai-nilai dan nilai-nilai itu mungkin berhubungan dengan diri sendiri atau mungkin nilai-nilai itu luas dan dimiliki oleh banyak orang lain.
Orang yang neurotis tidak memiliki nilai-nilai atau hanya memiliki nilai-nilai yang terpecah-pecah dan bersifat sementara. Nilai-nilai orang yang neurotis tidak tetap atau tidak cukup kuat untuk mengikat atau mempersatukan semua segi kehidupan.
Suara hati juga berperan dalam suatu filsafat hidup yang mempersatukan. Suara hati yang tidak matang sama seperti suara hati kanak-kanak, yang patuh dan membudak, penuh dengan pembatasan-pembatasan dan larangan-larangan yang dibawa dari masa kanak-kanak ke dalam masa dewasa. Suara hati yang tidak matang bercirikan perasaan “harus” dan bukan “sebaiknya”. Suara hati yang matang adalah suatu perasaan kewajiban dan tanggung jawab kepada diri sendiri dan kepada orang-orang lain, dan mungkin berakar dalam nilai-nilai agama dan nilai-nilai etis.







DAFTAR PUSTAKA
Schultz, D. (1991). Psikologi Pertumbuhan: Model-Model Kepribadian Sehat. Yogyakarta: PT Kanisius.

Feist, J., Feist, G.J. (2011). Teori Kepribadian. Jakarta: Salemba Humanika.



Kamis, 24 Maret 2016

Analisis Film Patch Adams

Nama Kelompok:
1. Resti Anugrahsari (19514092)
2. Wima Indah Perdana (1C514253)
Kelas: 2PA08




SINOPSIS FILM PATCH ADAMS

Patch Adams adalah sebuah film bergenre komedi biografi yang dirilis pada tahun 1998. Patch Adams mengisahkan tentang Hunter Adams (Robbin Williams) memiliki kehidupan yang bahagia bersama dengan kekasihnya yang ia cintai. Namun semuanya berubah ketika kekasih yang begitu dicintai oleh Patch meninggalkannya begitu saja. Bahkan kekasihnya tersebut memilih untuk meninggalkan Patch untuk hidup bersama pria lain.
Hal tersebut tentu saja membuat hati dari Patch menjadi hancur berantakan. Tidak cukup sampai disitu saja, hatinya yang hancur membuat kehidupan milik Patch menjadi tidak karuan. Ia seakan kehilangan semangat dan tujuan hidupnya. Dan ia hampir bunuh diri. Mengetahui bahwa dia perlu diobati membuat Patch dengan suka rela masuk ke dalam rumah sakit jiwa. Patch memang tidak gila namun dia yakin emosinya perlu disembuhkan.
Namun ternyata di Rumah Sakit Jiwa, Patch tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Para pasien disana hanya diobati dengan cara diberikan obat sedangkan gangguan-gangguan emosionalnya tidak pernah ditangani dengan baik. Hal tersebutlah yang membuat Patch kemudian berinisiatif untuk menghibur para pasien disana untuk bisa lebih baik.
Tak disangkan, hiburan dan motivasi yang dilakukan oleh Patch membuat perlahan kondisi kejiwaan para pasien disana mulai membaik. Hal tersebut membuat Patch menyadari bahwa untuk menyembuhkan seorang pasien bukan hanya fisiknya yang perlu diobati namun juga psikisnya.
Berangkat dari kepercayaan tersebut, Patch kemudian memiliki tujuan baru di dalam hidupnya. Yaitu dia akan menjadi dokter dan menyembuhkan para pasien dengan caranya sendiri. Patch pun mulai mengikuti pendidikan kedokteran agar nantinya ia bisa menjadi dokter sesungguhnya. Tapi ternyata di pendidikan kedokteran metode untuk menyembuhkan pasien menggunakan metode yang sangat kaku.
Yang lagi-lagi hanya memfokuskan untuk mengobati fisiknya namun kondisi psikis sang pasien selalu dilupakan. Patch kemudian memberi tahu bahwa pasien juga perlu dicari tahu penyebab penyakitnya dari segi psikis bukan hanya fisik. Namun ternyata pernyataan dari Patch sangat ditentang keras oleh universitasnya. Karena menganggap Patch hanyalah mengada-ada. Hal tersebutlah yang membuat Patch semakin berniat untuk membuktikan metode pengobatan yang dia miliki.



TEORI YANG BERKAITAN DENGAN FILM PATCH ADAMS

1       Alfred Adler (Psikologi Individual)
Menurut Adler, motif utama manusia adalah dorongan sosial untuk terlibat dalam lingkungan. Konsep utama Adler yaitu finalisme fiktif, perjuangan ke arah superioritas, inferioritas dan kompensasi, minat sosial, gaya hidup, diri kreatif.
Adler mengemukakan bahwa pada dasarnya manusia memiliki perasaan inferioritas dan keinginan menjadi superior menuju kesempurnaan. Inferioritas sebagai perasaan yang muncul akibat kekurangan psikologis/sosial yang dirasakan secara subjektif maupun perasaan yang muncul karena kelemahan atau cacat tubuh yang nyata.
Dalam tokoh Patch Adams, pada awalnya ia memiliki perasaan inferior dalam dirinya, dia memiliki rasa keputusasaan di dalam hiudpnya hingga mengajukan dirinya untuk masuk ke rumah sakit jiwa. Akan tetapi ketika di rumah sakit jiwa itulah yang menjadi awal kebangkitan Patch dari keterpurukan untuk melangkah menuju sukses (superioritas). Perjuangan untuk sukses ini dipacu karena adanya minat sosial di dalam diri Patch yang peduli terhadap orang-orang di sekitarnya serta memiliki sikap empati yang besar terutama pada orang-orang sakit. Patch memiliki tujuan final yang kuat untuk menjadi seorang dokter, oleh karena itu, Patch pun memutuskan untuk kuliah di fakultas kedokteran karena ia ingin menyembuhkan orang-orang yang sakit dengan cara yang unik. Patch ingin menyembuhkan pasien-pasiennya bukan hanya dengan bantuan medis saja tetapi memberikan perhatian dan sikap empati terhadap pasien untuk menciptakan jiwa yang selalu bahagia meskipun sedang sakit. Karena adanya tujuan final yang dimiliki Patch, Patch  memiliki gaya hidup yang berbeda dengan adanya kekuatan diri kreatif yang besar, dimana dia mempunyai pemikiran bahwa manusia bukan penerima pengalaman secara pasif tetapi manusia adalah aktor dan inisiator tingkah laku. Sesuai dengan pandangan Adler yang menyatakan bahwa kperibadian bersifat dinamis bukan statis, bahwa setiap orang selalu bergerak sepanjang hidupnya.

2.      Carl Gustav Jung (Psikologi Analitik)
Jung mengemukakan bahwa teori psikologi analitik itu memiliki tingkatan psyche (kepribadian), dinamika kepribadian, tipe-tipe psikologis dan perkembangan kepribadian.
Di dalam tipe-tipe psikologis, jung membedakan menjadi dua, yaitu menurut sikapnya (introvert dan ekstrovert) dan menurut fungsinya (sensing, thinking, feeling, intuiting).
Sikap ekstraversi mengarahkan pribadi ke pengalaman objektif, memusatkan perhatiannya ke dunia luar,cenderung berinteraksi dengan orang disekitarnya, aktif, dan ramah. Sama seperti tokoh Pach Adams disini ia memiliki sikap ekstrovert yang lebih dominan dalam dirinya. Hal ini dibuktikan dari kemampuan berinteraksi dengan orang lain secara baik, dia mampu bersikap aktif pada pasien-pasiennya yaitu dengan memberikan perhatian dengan cara-caranya yang unik, sehingga orang-orang beserta pasiennya merasa senang, nyaman, dan akrab.

3.      Erik Erikson (Perkembangan Psikososial)
Erikson memiliki 8 tahap perkembangan psikososial yang menurutnya akan terungkap seiring pengalaman masa hidup kita, masing-masing tahap memiliki sebuah tugas perkembangan unik yang menhadirkan krisis yang harus diselesaikan oleh individu. 8 Tahap perkembangan psikososial yaitu , Basic Trust vs Mistrust, Autonomy Vs Shame and Doubt, Initiative Vs Guilt, Industry Vs Inferiority, Identity Vs Identity Confusion, Intimacy Vs Isolation, Generativity Vs Stagnation, Integrity Vs Despair. Di sini akan lebih dibahas tentang tahapan Generativity Vs Stagnation yang dialami di masa dewasa menengah. Generativity ialah persoalan utama yang dihadapi individu di masa ini adalah membantu generasi muda untuk mengembangkan dan mengarahkan kehidupan yang berguna. Sedangkan stagnation itu adalah perasaan bahwa belum melakukan sesuatu untuk menolong generasi berikutnya.
Generativity yang terjadi pada Patch, yakni ia mempunyai usaha dalam pekerjaan untuk bekerja produktif dengan memunculkan ide-ide baru dalam dunia kedokteran yang berprinsip bahwa dalam menyembuhkan pasien tidak cukup hanya dengan rawat inap maupun pemberian obat, tetapi memberikan kebahagiaan dan mengerti akan keadaan pasien untuk tetap tersenyum melalui cara-cara kreatif yang dilakukan oleh Patch. Akan tetapi, ditengah usahanya untuk menjadi seorang dokter, Patch mengalami stagnasi. Hal ini terjadi karena Patch tidak memiliki semangat hidup setelah ditinggal mati oleh wanita yang sangat dicintainya. Namun hal itu tidak berlangsung lama karena ia mencoba berpikir untuk melawan rasa keputusasaan yangterjadi pada dirinya dengan meyakini bahwa ia harus tetap maju demi mencapai tujuan yang telah dicita-citakan.



DAFTAR PUSTAKA


Feist, J., Feist, G.J. (2014). Teori Kepribadian. Jakarta: Salemba Humanika.



Kamis, 10 Maret 2016

Nama : Resti Anugrahsari
NPM : 19514092
Kelas : 2PA08



KONSEP SEHAT MENURUT 5 DIMENSI (EMOSIONAL, INTELEKTUAL, SOSIAL, FISIK DAN SPIRITUAL)

Berabad-abad lalu, sehat diartikan sebagai kondisi yang normal dan alami. Karenanya, segala sesuatu yang tidak normal dan bertentangan dengan alam bisa dikatakan tidak sehat. Sehat bersifat dinamis dan dapat terus berubah. Kesehatan dapat mempengaruhi tingkat fungsi seseorang, baik dari segi fisiologis, psikologis maupun sosiokultural.

Pengertian sehat memang masih dipertentangkan pengertiannya, berikut beberapa pengertian sehat :

a.     Menurut WHO (1974), sehat adalah keadaan keseimbangan yang sempurna, baik fisik, mental, dan sosial, tidak hanya bebas dari penyakit dan kelemahan.
b.      Menurut WHO (1957), konsep sehat diartikan sebagai suatu keadaan dan kualitas dari organ tubuh yang berfungsi secara wajar dengan segala faktor keturunan dan lingkungan yang dimiliki.
c.       Menurut Parson, sehat adalah kemampuan optimal individu untuk menjalankan peran dan tugasnya secara efektif.
d.      Menurut Undang-Undang Kesehatan RI No. 23 Tahun 1992, sehat diartikan sebagai keadaan sejahtera tubuh, jiwa, sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
e.       Menurut MUI (1983) dalam musyawarah Nasional Ulama, kesehatan diartikan sebagai ketahanan jasmaniah, rukhaniyah dan sosial yang dimiliki manusia sebagai karunia Allah SWT yang wajib disyukuri dengan mengamalkan tuntunannya dan memelihara serta mengembangkannya.
f.       Menurut Parkins (1938), konsep sehat didefinisikan sebagai suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya.
g.      Menurut White (1977), sehat adalah suatu kondisi dimana seseorang pada waktu diperiksa tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu peyakit atau kelainan.
h.      Menurut WHO (1984), kesehatan didefinisikan sebagai konsep yang positif yang mementingkan sumber daya sosial dan pribadi dan juga kemampuan fisik yang dimiliki seseorang, dengan kata lain seseorang itu memiliki tubuh yang sehat, gizinya baik, tidak berpenyakit dan mempunyai kedudukan sosial yang baik.
i.        Menurut WHO (1986) dalam Piagam Ottawa, kesehatan itu ialah sumber daya yang penting bagi kehidupan sehari-hari bukan tujuan hidup.

Secara umum, dapat disimpulkan bahwa pengertian kesehatan adalah suatu keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Menurut WHO, definisi tentang sehat memiliki karakteristik yang dapat meningkatkan konsep sehat yang positif yaitu,  memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh, memandang sehat dengan mengidentifikasi lingkungan internal dan eksternal, penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.

Konsep kesehatan dari 5 dimensi (emosional, intelektual, sosial, fisik dan spiritual) :

a.    Kesehatan emosional, menurut Wirawan emosi adalah setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai dengan warna afektif baik pada tingkat sederhana maupu tingkat yang lebih luas, sedangkan menurut Golemen, emosi merupakan suatu perasaan hasil campur dari rasa takut, gelisah, marah, sedih dan senang. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa emosi adalah suatu keadaan kejiwaan yang mewarnai tingkah laku, emosi juga dapat diartikan sebagai suatu reaksi psikologis yang ditampilkan dalam bentuk tingkah laku gembira, bahagia, marah, sedih, takut, haru  dan sejenisnya. Emosional yang sehat dapat terlihat dari kemampuan seseorang dalam mengekspresikan ataupun mengendalikan emosinya.
Contoh: Sinta adalah anak tunggal dari kedua orang tuanya, ia memiliki sifat yang periang, suatu saat ibunya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia, kejadian itu membuat Sinta sangat sedih dan terpukul karena kejadian itu ia hampir berubah menjadi seseorang yang pemarah karenya ibunya telah berbohong bahwa ibunya akan selalu bersamanya tetapi malah pergi meninggalkannya, namun Sinta dapat mengendalikan emosinya tersebut sehingga ia bisa mengikhlaskan kepergian ibunya.
b.  Kesehatan intelektual, menurut David Wechsler (1996) intelektual adalah kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berpikir secara rasional, serta menghadapi lingkungan secara efektif. Intelektual yang sehat tercemin dari bagaimana seseorang berfikir dilihat dari wawasannya, pemahamannya, alasannya, logika dan pertimbangnnya. Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran, bertindak secara efisien dan efektif, dan juga dapat menyelesaikan masalah yang sedang ia hadapi.
Contoh: Andi adalah seorang ketua kelas, dia dapat memberikan contoh yang baik bagi teman-temannya. Suatu saat ia mendapatkan masalah dengan sahabatnya, namun Andi mampu berpikir secara rasional dan dapat bertindak secara efisien untuk menyelesaikan permasalahannya itu dan sudah memikirkan konsekuensi dari apa yang akan ia lakukan.
c.      Kesehatan sosial, berfokus pada perilaku seseorang dalam kelompok sosialnya, sosial dikatakan sehat dicerminkan dari bagaimana kemampuan  seseorang untuk berhubungan atau berkomunikasi secara baik dengan orang lain ataupun lingkungan sosialnya tanpa membeda-bedakan baik dari segi ras, kedudukan, status sosial, agama, suku dan lain sebagainya, serta dapat hidup bersama masyarakatnya dengan aman dan damai.
Contoh: Kimi mengikuti banyak organisasi-organisasi baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggalnya. Ia memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik terhadap orang lain, orang-orang yang mengobrol dengannya merasa nyaman. Suatu saat di sekolahnya ada murid baru, murid baru itu berkulit hitam dan memiliki status sosial yang rendah, ia dapat bersekolah disana karena mendapatkan beasiswa. Karena sekolah Kimi adalah sekolah yang bisa dikatakan sekolah bertaraf internasional dan murid-murid yang bersekolah disana memiliki status sosial yang tinggi, banyak dari mereka yang tidak mau berteman dengan murid baru tersebut. Namun Kimi tidak seperti itu, Kimi mulai mengobrol dengan murid baru itu dan lama kelamaan mereka akrab, Kimi memang tidak pernah membeda-bedakan seseorang baik dari ras, suku, status sosial dan lain sebagainya.
d.  Kesehatan fisik, kesehatan dari bentuk fisik yang tidak mengalami gangguan, tidak cacat, tidak kekurangan sesuatu apapun, tidak mudah sakit dan terwujud jika seseorang tidak merasa atau mengeluh sakit dan memang secara objektif tidak nampak sakit dan dapat beraktifitas sehari-hari dengan optimal. Pengertian yang lebih luas diartikan sebagai suatu keadaan yang dinamis dimana seseorang dapat menyesuaikan dirinya dengan perubahan-perubahan lingkungan internal (spiritual, penyakit, psikologis, intelektual) ataupun lingkungan eksternal ( sosial, ekonomi) dalam mempertahankan kesehatannya.
Contoh: Vina adalah salah satu mahasiswi di universitas swasta di Jakarta, dia selalu berpenampilan rapi, dia mengikuti banyak aktivitas di kampusnya maupun diluar kampus, dia jarang mengalami gangguan kesehatan, salah satu sebabnya karena ia rajin berolahraga, dia dikenal sebagai orang yang gesit, cekatan dan aktif dan dia mampu beraktivitas seoptimal mungkin.
e.  Kesehatan spiritual, konsep spiritual berkaitan dengan nilai, ketenangan jiwa, keyakinan dan kepercayaan seseorang, kepercayaan itu sendiri memiliki cakupan mulai dari atheisme sampai agnotisme ataupun theism. Keyakinan merupakan hal yang lebih dalam dari suatu kepercayaan seorang individu, keyakinan itu mendasari seseorang untuk bertindak. Kesehatan spiritual dapat dibentuk dan terbentuk yang dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari dalam diri individu itu sendiri maupun dari luar diri individu. Spiritual yang sehat dapat terlihat dari bagaimana seseorang mengekspresikan rasa syukur, pujian dan kepercayaan terhadap Tuhan, dengan kata lain sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya. 
Contoh: Dian adalah seorang pengusaha yang kaya raya, walaupun dia kaya dia sama sekali tidak sombong, ia selalu memberikan sumbangan kepada orang-orang yang kurang mampu, ia selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya, dia selalu mengingat Allah dan ia selalu beribadah, bertawakal, berdoa pada Allah.



Kesimpulan

Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Sehat memang masih dipertentangkan pengertiannya dan belum ada kata sepakat dari para ahli dan tokoh masyarakat dunia, namun WHO membuat definisi yang universal yaitu, sehat adalah suatu keadaan fisik, mental, dan kesejahteraan sosial yang merupakan satu kesatuan dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan. Konsep sehat bagi masyarakat awam lebih dikenal kepada keadaan fisik jasmaniah seseorang yaitu sakit dan sehat, tetapi sebenarnya konsep sehat tidak hanya dari segi fisik saja, namun terdapat dimensi-dimensi lain seperti emosional, intelektual, sosial dan spiritual.

Kesehatan fisik dicerminkan dari keadaan fisik yang tidak mengalami gangguan ataupun kecacatan. Kesehatan emosional dicerminkan dari kemampuan seseorang dalam mengekpresikan dan mengendalikan emosinya. Kesehatan intelektul dicerminkan dari kemampuan seseorang menghadapi dan memecahkan persoalannya. Kesehatan sosial dilihat dari bagaimana seseorang mampu berinteraksi dengan baik di dalam lingkungan sosialnya tanpa membedakan ras, suku, agama dan sejenisnya. Kesehatan spiritual dilihat dari rasa syukur, pujian dan kepercayaan pada Tuhan.