Kamis, 06 Oktober 2016

Pengertian Sumber Daya Manusia, Organisasi dan Kepemimpinan yang Baik dalam Organisasi

NAMA : RESTI ANUGRAHSARI
NPM     : 19514092
KELAS : 3PA08


1.    Pengertian Sumber Daya Manusia (SDM)
·      Menurut Hasibuan (2003) mengatakan Sumber Daya Manusia (SDM) adalah kemampuan terpadu yang dimiliki oleh setiap manusia yang ditentukan oleh daya pikir (kecerdasan yang dibawa sejak lahir [modal dasar]) dan daya fisiknya. SDM juga merupakan unsur utama dalam setiap aktivitas yang dilakukan oleh manuia itu sendiri.
·      Menurut Veithzal (2003) mengatakan bahwa SDM ini adalah seseorang yang telah siap, mau dan mampu untuk memberikan sumbangan usaha demi tercapainya tujuan perusahaan. SDM merupakan salah satu unsur masukan (input) yang bersama unsur lainnya seperti modal, teknologi, bahan, metode yang diubah menjadi proses manajemen menjadi keluaran (output) berupa barang ataupun jasa dalam usaha mencapai tujuan perusahaan atau organisasi.

SDM adalah semua penduduk dalam wilayah tertentu yang telah cukup usianya untuk bekerja, mau itu yang telah bekerja ataupun yang sedang mencari pekerjaan. SDM juga unsur yang paling penting dalam suatu organisasi dibandingkan elemen yang lain (teknologi, uang, modal, dsb) karena manusia itu sendirilah yang mengendalikannya. Jadi walaupun terdapat teknologi secanggih apapun di dalam perusahaan atau organisasi tidak akan ada fungsinya atau artinya tanpa peran aktif dari SDM itu sendiri.
Secara singkat dari penjelasan diatas dapat dikatakan bahwa Sumber Daya Manusia(SDM) merupakan komponen yang paling penting dalam suatu perusahaan atau organisasi dengan melakukan aktivitas dengan kemampuan terpadu (daya fisik dan daya pikir) untuk mencapai tujuan perusahaan atau organisasi. Agar tujuan dari perusahaan atau organisasi itu dapat tercapai diperlukan SDM yang baik dan handal.


2.    Pengertian Organisasi
·         Menurut Stoner Organisasi adalah sebuah pola yang menghubungkan orang-orang di bawah arahan pimpinan (manager) untuk mencapai atau mengejar tujuan bersama.
·         Menurut James D. Mooney  dalam bukunya “The Principles of Organization” organisasi yaitu segala bentuk persatuan manusia untuk mecapai tujuan bersama.
·         Menurut Chester I. Barnard dalam bukunya “The Function of The Executive” organisasi merupakan suatu sistem mengenai usaha-usaha kerjasama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.
    *Organisasi -> Bahasa Yunani (Organon) -> Alat (Tools)
Organisasi dapat diartikan sebagai wadah atau tempat yang terdiri dari beberapa orang yang saling berinteraksi satu sama lain sebagai proses yang dikerjakan secara bersama, dengan cara yang sama, landasan yang sama untuk mencapai tujuan yang sama pula.
Dapat dikatakan juga organisasi adalah fasilitas untuk melakukan interaksi atau hubungan kerja yang terdiri dari beberapa orang yang berkumpul, bekerja bersama-sama dengan cara yang sistematis, terstruktur, rasional, terpimpin dan memakai sumber daya (lingkungan, uang, dsb) yang dimiliki secara efisien bahkan efektif demi tercapainya tujun atau maksud yang sama dari organisasi tersebut.


3.    Kepemimpinan yang Baik dalam Organisasi
Kepemimpinan (Leadership) adalah kemampuan seseorang (yaitu pemimpin) untuk mempengaruhi orang lain (yaitu yang dipimpin atau pengikut-pengikutnya) sehingga orang lain tersebut bertingkah-laku sebagaimana dikehendaki oleh pemimpin tersebut.
Kepemimpinan dapat juga diartikan sebagai proses mengarahkan perilaku orang lain kearah pencapaian suatu tujuan tertentu. Pengarahan tersebut berarti menyebabkan orang lain bertindak dengan cara tertentu atau mengitu arah tertentu.
Didalam sebuah organisasi pemimpin merupakan posisi yang penting, karena dengan kerja atau adanya pemimpin mampu membuat organisasi itu mengalami kemajuan bahkan kemunduran tergantung dari bagaimana cara ia memimpin.
Kepemimpinan yang baik dalam suatu organisasi merupakan pemimpin yang berkharismatik, adil, baik hati, bisa memberikan contoh secara langsung maupun tidak langsung, memiliki kerendahan hati, jujur, tanggung jawab, terampil, memiliki emosi yang stabil dapat memotivasi para anggota organisasinya untuk melakukan tujuan dari organisasinya tersebut, mampu mengajak orang yang mau melakukan tugas yang saling berkaitan satu sama lain untuk visi dan misi yang sama, pemimpin juga harus dapat mengatur semua hal didalam organisasi agar menjadi organisasi yang teratur.
Kepemimpinan yang baik juga memiliki kecerdasan, kemampuan berkomunikasi yang baik dan demokratif. Kecerdasan disini diharapkan seorang pemimpin memiliki pengetahuan yang luas terhadap semua informasi dan perkembangan teknologi sesuai perkembangan jaman. Pemimpin juga harus memiliki kemampuan dalam berkomunikasi dengan baik yaitu tidak membuat jarak antara pemimpin dengan anggota-anggotanya. Pemimpin yang demokratif yaitu pemimpin yang terbuka, terbuka disini dimaksudkan pemimpin yang partisipatif mengenai masalah-masalah yang terjadi di dalam organisasinya dan menerima krtikan ataupun pendapat dari anggotanya dan mampu ikut serta dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.





DAFTAR PUSTAKA
Soekanto, S. (2012). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.

Rivai, V. (2003). Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan: Dari Teori ke Praktik. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

Hasibuan, Malayu SP. (2003). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara

Wiratmo, M. (1994). Kewirausahaan. Jakarta: Universitas Gunadarma

Hafidhuddin, Didin., dan Hendri Tanjung. (2003). Manajemen Syariah dalam Praktik. Jakarta: Gema Insani.

Hariandja, M.T.F. (2002). Manajemen Sumber Daya. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.









Kamis, 28 April 2016

Analisis Jurnal

NAMA KELOMPOK:
1.      ALMIRA HIKMAH                          10514880
2.      AMALIATU SALSIAH                    10514932
3.      RESTI ANUGRAHSARI                  19514092
4.      WIMA INDAH PERDANA              1C514253
5.      WINDY NILA TRESNA                  1C514281

 KELAS: 2PA08


JUDUL: 
HUBUNGAN ANTARA MODEL KOMUNIKASI DUA ARAH ANTARA ATASAN DAN BAWAHAN DENGAN MOTIVASI KERJA PADA BINTARA DI POLRESTA YOGYAKARTA.



Analisis Hubungan Atasan dan Bawahan
Mulyana (2006) mengemukakan, salah satu model komunikasi adalah model komunikasi dua arah. Apabila terdapat dua pihak yang berkomunikasi maka keduanya dapat berperan sebagai komunikator dan komunikan secara bergantian, saling mengirim pesan dan menerima pesan secara berkelanjutan. Menurut Wexley & Yulk (1977), komunikasi dalam konteks organisasi merupakan proses utama dalam organisasi, karena mencakup kepemimpinan, perencanaan, pengontrolan, koordinasi, pelatihan, manajemen konflik, pengambilan kebijakan, dan proses organisasi lainnya.
Hubungan model komunikasi dua arah antara atasan dan bawahan pada Bintara di Polresta Yogyakarta termasuk ke dalam kepemimpinan transformasional karena interaksi antara pemimpin dan pengikutnya, manajer dengan bawahannya ditandai oleh pengaruh pemimpin atau manager untuk mengubah perilaku pengikutnya atau bawahannya menjadi seseorang yang merasa mampu dan bermotivasi tinggi dan berupaya mencapai prestasi kerja yang tinggi dan bermutu. Motivasi kerja yang tinggi seharusnya dimiliki oleh anggota kepolisian. Setiap anggota kepolisian dari jengjang pangkat Bintara hingga Perwira dituntut untuk memiliki tanggung jawab yang tinggi, memiliki kepecayaan diri dalam kepercayaan diri dalam melakukan tugas pantang menyerah serta menyukai tujuan lembaga kepolisian. Dari lima aspek kepemimpinan tranformasional penelitian tersebut masuk ke dalam Idealizet influence karena pemimpin berusaha mempengaruhi bawahan dengan menekankan pentingnya nilai-nilai dan keyakinan untuk mencapai tujuan. Anggota kepolisian yang memiliki motivasi kerja seharusnya memiliki kemampuan untuk menggerakkan sikap dan perilaku menuju sasaran yang ingin dicapai oleh Polresta Yogyakarta.
Menurut Mc Clelland (1961), menyatakan bahwa ada tiga hal penting yang menjadi kebutuhan manusia, yaitu :
1.      Need for achievement
2.      Need for afiliation
3.      Need for power
Penelitian ini masuk dalam need for afilition yaitu keinginan untuk menjalin suatu hubungan antarpersonal yang ramah dan akrab (kebutuhan akan hubungan sosial/hampir sama dengan social need-nya Masllow). Terdapat hubungan yang positif antara komunikasi dua arah antara atasan dan bawahan dengan motivasi kerja pada Bintara di Polresta Yogyakarta. Semakin sering model komunikasi dua arah antara atasan dan bawahan dilakukan, maka semakin tinggi pula motivasi kerja pada Bintara. Sebaliknya, semakin rendah atau jarang model komunikasi dua arah antara atasan dan bawahan dilakukan, maka semakin rendah pula motivasi kerja.

Analisis Motivasi Kerja
Motivasi berasal dari bahasa latin movere yang berarti dorongan, daya penggerak atau kekuatan yang menyebabkan suatu tindakan atau perbuatan. Hal tersebut diberikan pada individu agar mampu mencapai tujuan tertentu (Steers & Poter, 1996). Robbins dan Judge (2008) mendefinisikan motivasi sebagai proses yang menjelaskan intensitas, arah dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Motivasi adalah suatu proses kebutuhan-kebutuhan yang mendorong seseorang untuk melakukan serangkaian kegiatan yang mengarah kepada tercapainya tujuan tersebut (Munandar, 2001).
Maslow mengemukakan kebutuhan akan motivasi berdasarkan lima tingkatan  penting yaitu, kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki, kebutuhan akan penghargaan, kebutuhan aktualisasi diri. Dalam jurnal tersebut dikaitkan dengan teori motivasi Maslow tentang aktualisasi diri (kebutuhan kognitif: mengetahui, memahami dan menjelajahi; kebutuhan estetik: keserasian, keteraturan dan keindahan; kebutuhan aktualisasi diri: mendapatkan kepuasan diri dan menyadari potensinya).
Pada jurnal diatas disebutkan bahwa sikap dan perilaku polri mencerminkan tinggi rendahnya motivasi kerja. Dicontohkan seorang polri yang datang apel tepat waktu lebih memiliki motivasi kerja yang lebih tinggi dibandingkan dengan polri yang datang apel terlambat dan tidak melakukan tugas sesuai dengan standar.
Disebutkan bahwa seseorang yang memiliki tanggung jawab yang tinggi maka memiliki motivasi yang tinggi, dan seeorang yang memiliki tanggung jawab yang rendah maka memiliki motivasi yang rendah. Karena aktualisasi diri merupakan perkembangan yang paling tinggi  dan penggunaan semua bakat kita, pemenuhan semua kualitas dan kapasitas kita, maka sikap dan perilaku polri yang bertanggung jawab mencerminkan teori motivasi dari Maslow mengenai aktualisasi diri yang memberikan arti bahwa seseorang yang bertanggung jawab khususnya terhadap pekerjaaannya akan mengembangkan dan menggunakan semua bakatnya, kualitas dan kapasitasnya dalam bekerja semaksimal mungkin.





DAFTAR PUSTAKA


Schultz, D. (1991). Psikologi Pertumbuhan: Model-Model Kepribadian Sehat. Yogyakarta: PT Kanisius.


Munandar, A.S. (2001). Psikologi Industri dan Organisasi. Depok: Penerbit Universitas Indonesia.

Senin, 11 April 2016

Konsep Sehat: Erich Fromm

Nama: Resti Anugrahsari
NPM: 19514092
Kelas: 2PA08



Erich Fromm
Fromm (1955) menyatakan bahwa satu perbedaan penting antara manusia yang sehat secara mental dan manusia neurotik adalah bahwa manusia yang sehat secara mental menemukan jawaban atas keberadaan mereka-jawaban yang lebih sesuai dengan jumlah kebutuhan manusia. Dengan kata lain, individu yang sehat lebih mampu menemukan cara untuk bersatu kembali dengan dunia, dengan secaraproduktif memenuhi kebutuhan manusiawi akan keterhubungan, keunggulan, keberakaran, kepekaan akan identitas dan kerangka orientasi.
Kepribadian sehat menurut Erich Fromm adalah penyesuaian diri seseorang dalam masyarakat merupakan kompromi antara kebutuhan-kebutuahn batin dan tuntutan dari luar dan seseorang menerapkan kerakter sosial untuk memenuhi harapan masyarakat kepribadian sehat juga adanya keinginan untuk mencintai dan di cintai dalam bukunya Art Of Love erik Fromm mengutarakan : Dalam Civilization and Its Discontents (1930), seperti dikutip oleh Eric Fromm dalam Masyarakat yang Sehat (Terjemahan Thomas Bambang Murtianto, 1995) ia menulis: "Manusia, setelah menemukan lewat pengalamannya bahwa cinta seksual (genital) memberinya kepuasan puncak, maka makna cinta seksual-genital menjadi prototipe bagi semua bentuk kebahagiaan manusia. Karenanya manusia terdorong mencari kebahagiaan yang ada kaitannya dengan hubungan seks, menempatkan erotisme genital sebagai titik pusat kehidupannya…. Dengan melakukan itu manusia menjadi sangat tergantung pada dunia luar, pada obyek cinta pilihannya, atau sungguh merasa kehilangan bila ditinggal mati atau ditinggal kabur."
Masyarakat sangat berperan penting dalam pembentukan kepribadian. Masyarakat yang menjadikan seseorang berkepribadian sehat adalah masyarakat yang hubungan sosialnya sangat manusiawi.


Pendekatan Fromm Terhadap Kepribadian
Fromm melihat kepribadian hanya sebagai suatu produk kebudayaan. Karena itu dia percaya bahwa kesehatan jiwa harus di definisikan menurut bagaimna baik nya masyarakat menyesuaikan diri dengan kebutuhan-kebutuhan dasar semua individu, bukan menurut bagaimana baiknya individu-individu menyesuaikan diri dengan masyarakat. Karena itu kesehatan psikologis tidak begitu banyak merupakan usaha masyarakat. Faktor kunci ialah bagaimana suatu masyarakat memuaskan secukupnya kebutuhan-kebutuhan manusia.
Suatu masyarakat yang tidak sehat atau sakit menciptakan permusuhan, kecurigaan, ketidakpercayaan dalam anggota-anggotanya, dan merintangi pertumbuhan penuh dari setiap individu. Suatu masyarakat yang sehat membiarkan anggota-anggotanya mengembangkan cinta satu sama lain, menjadi produktif yang kreatif, mempertajam dan memperhalus tenaga pikiran dan objektivitasnya dan mempermudah timbulnya individu-individu yang berfungsi sepenuhnya.
Menurut Fromm, kita adalah makhluk yang unik dan kesepian. Sebagai akibat evolusi kita dari binatang-binatang yang lebih rendah, kita tidak lagi menyatu dengan alam; kita tidak terikat pada mekanisme-mekanisme instinktif. Akan tetapi perbedaan yang sangat penitng antara manusia dan binatang yang lebih rendah terletak pada kemampuan kita akan kesadaran diri, pikiran, daya khayal. Manusia mengetahui; kita mengetahui bahwa kita akhirnya tak berdaya, kita akan mati, dan kita terpisah dari binatang-binatang lain dan dari alam.
Menurut Fromm, pribadi yang sehat adalah pribadi yang mampu hidup hidup di masyarakat sosial yang ditandai dengan hubungan – hubungan yang manusiawi, diwarnai oleh solidaritas penuh cinta dan saling tidak merusak atau menyingkirkan. Dengan demikian, menurut Fromm, orang yang berkepribadian sehat memiliki ciri – ciri sebagai berikut :
a.       Mampu mengembangkan hidupnya sebagai makhluk sosial di dalam masyarakat
b.      Mampu mencintai dan dicintai
c.       Mampu mempercayai dan dipercayai tanpa memanipulasi kepercayaan tersebut
d.      Mampu hidup bersolidaritas dengan orang lain tanpa syarat
e.       Mampu menjaga jarak antar dirinya dengan masyarakat tanpa merusaknya
f.       Memiliki watak sosial yang produktif

Dorongan Kepribadian yang Sehat
Dorongan Kepribadian yang sehat. Sebagai organisme yang hidup, kita didorong untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan fisiologis dasar akan kelaparan, kehausan, dan seks. Apa yang penting dalam mempengaruhi kepribadian ialah kebutuhan-kebutuhan psikologis. Semua manusia sehat dan tidak sehat didorong oleh kebutuhan-kebutuhan tersebut, perbedaan antara mereka terletak dalam cara bagaimana kebutuhan-kebutuhan ini dipuaskan. Orang-orang yang sehat memuaskan kebutuhan-kebutuhan psikologis secara kreatif dan produktif. Orang-orang yang sakit memuaskan kebutuhan-kebutuhan tersebut dengan cara-cara irasional.
Fromm mengemukakan lima kebutuhan yang berasal dari dikotomi kebebasan dan keamanan:
1.        Keterhubungan (Relatedness)
Fromm percaya bahwa pemuasan kebutuhan untuk berhubungan atau bersatu dengan orang-orang lain ini sangat penting untuk kesehatan psikologis. Tingkah laku yang irasional, bahkan penyakit jiwa, merupakan akibat yang tidak dapat dihindari karena kegagalan dalam memuaskan kebutuhan ini.
Ada beberapa cara untuk menemukan hubungan. Beberapa cara adalah destruktif (tidak sehat), dan cara-cara lainnya konstruktif (sehat). Seseorang dapat berusaha untuk bersatu dengan dunia dengan bersikap tunduk kepada orang lain, kepada suatu kelompok, atau kepada sesuatu yang ideal, seperti Allah. Dengan menundukan diri, orang tidak lagi sendirian, tetapi menjadi milik dari seseorang atau sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Kemungkinan lain seseorang dapat berusaha untuk berhubungan dengan dunia dengan menguasainya, dengan memaksa orang-orang lain tunduk kepadanya.
Cara yang sehat untuk berhubungan dengan dunia adalah melalui cinta. Cinta memuaskan kebutuhan akan keamanan dan juga menimbulkan sesuatu perasaan integritas dan individualitas. Fromm tidak mendefinisikan cinta semata-mata dalam pengertian erotis, definisinya meliputi cinta orangtua terhadap anak, cinta kepada diri sendiri, dan dalam pengertian yang lebih luas, solidaritas dengan semua orang dan mencintai mereka.
2.        Transcendence (Keunggulan)
Transendensi (keunggulan) didefinisikan sebagai dorongan untuk melampaui keberadaan yang pasif dan kebetulan menuju “alam penuh makna dan kebebasan”, keunggulan dapat dicari melalui pendekatan positif dan negatif.
Fromm percaya bahwa dalam perbuatan menciptakan manusia mengatasi kodrat eksistensi yang pasif dan aksidental, dengan demikian mencapai suatu perasaan akan maksud dan kebebasan. Menciptakan ialah cara sehat untuk melebihi keadaan binatang yang pasif yang tidak diterima oleh manusia karena kemampuan pikiran dan daya khayalnya. Kebutuhan akan transendensi harus dipuaskan apabila tidak dengan suatu cara yang sehat maka dengan suatu cara yang tidak sehat.
Fromm percaya bahwa jalan lain untuk kreativitas ialah destruktivitas. Destruktivitas dan kreativitas keduanya berakar secara mendalam pada kodrat manusia. Akan tetapi, kreativitas merupakan potensi utama dan menyebabkan kesehatan psikologis.
3.        Keberakaran (Rootedness)
Keberakaran atau disebut juga kebutuhan untuk berakar atau merasa berpulang kembali di dunia. Keberakaran dapat dilihta secara filogenetis dalam evolusi spesies manusia. Fromm setuju dengan Freud bahwa keinginan untuk melakukan hubungan sedarah adalah universal, namun i atidak setuju dengan keyakina Freud bahwa hubungan yang diinginkan tersebut secara esensial adalah hubungan seksual.
Keberakaran dapat dicari dengan cara sehat (ideal) dan cara tidak sehat. Cara yang ideal adalah dengan membentuk suatu perasaan persaudaraan dengan sesama umat manusia, suatu perasaan keterlibatan, cinta, perhatian, dan partisipasi dalam masyarakat. Perasaan solidaritas dengan orang-orang lain ini memuaskan kebutuhan untuk berakar, untuk berkoneksi da berhubungan dengan dunia.
Cara yang tidak sehat untuk berakar ialah dengan memelihara ikatan-ikatan sumbang masa kanak-kanak dengan ibu. Kurang lebih orang yang demikian tidak pernah sanggup meninggalkan rumah dan terus berpegang teguh pada keamanan ikatan-ikatan keibuan. Ikatan-ikatan sumbang dapat meluas melampaui hubungan anak-ibu dan memasukan seluruh kelompok keluarga.
4.        Kepekaan Akan Identitas (sense of identity)
Kepekaan akan identitas atau kemampuan untuk menyadari diri sediri sebagai wujud yang terpisah. From, (1981) percaya bahwa manusia primitif mengidentifikasi diri mereka lebih dekat dengan klan mereka dan tidak melihat dirinya sebagai individu yang terpisah dari kelompok.
Cara yang sehat utuk memuaskan kebutuhan ini yaitu individualitas, proses dimana seseorang mencapai suatu perasaan tertentu tentang identitas diri. Sejauh mana kita masing-masing mengalami suatu perasaan yang unik tentang diri (selfhood) tergantung pada bagaimana kita berhasil memutuskan iaktan-ikatan sumbang dengan keluarga, suku, atau bangsa kita. Orang-orang dengan perasaan individualitas yang berkembang baik mengalami diri mereka seperti lebih mengontrol kehidupan mereka sendiri, dan kehidupan mereka tidak dibentuk oleh orang-orang lain.
Cara yang tidak sehat dalam membentuk suatu perasaan identitas adalah menyesuaikan diri dengan sifat-sifat suatu bangsa, ras, agama atau pekerjaan.
5.        Kerangka Orientasi
Setiap individu harus merumuskan suatu gambaran konsisten tentang dunia yang memberikan kesempatan untuk memahami semua peristiwa dan pengalaman. Dasar yang ideal untuk kerangka orientasi adalah pikiran, yakni sarana yang digunakan seseorang untuk mengembangkan suatu gambaran realistis yang objektif tentang dunia. Yang terkandung dalam hal ini ialah kapasitas untuk melihat dunia (termasuk diri) secara objektif, untuk menggambarkan dunia dengan tepat dan tidak mengubahnya dengan lensa-lensa subjektif dari kebutuhan-kebutuhan dan ketakutan-ketakutan orang sendiri.
Fromm sangat mementingkan persepsi objektif tentang kenyataan. Semakin objektif persepsi kita, semakin juga kita berhubungan dengan kenyataan, jadi semakin matang dan semakin tangkas pula kita dalam menanggulangi dunia luar. Pikiran harus dikembangkan dan diterapkan dalam semua segi kehidupan.

Kodrat Kepribadian yang Sehat
Fromm memberikan suatu gambaran jelas tentang kepribadian yang sehat. Fromm menyebut kepribadian yang sehat adalah orientasi produktif. Konsep itu menggambarkan penggunaan yang sangat penuh atau realisasi dari potensi manusia. Dengan menggunakan kata “orientasi”, Fromm menunjukkan bahwa kata itu merupakan suatu sikap umum atau segi pandangan yang meliputi semua segi kehidupan, renspons-respons intelektual, emosional, dan sensoris terhadap orang-orang, benda-benda, dan peristiwa-peristiwa didunia dan terhadap diri.
Menjadi produktif berarti orang menggunakan semua tenaga dan potensinya. Kata “produktif” mungkin menyesatkan karena kita cenderung memikirkan kata itu dalam pengertian manghasilkan sesuatu seperti barang-barang material, karya-karya seni atau ide-ide.  Orang-orang sehat menciptakan diri mereka dengan melahirkan semua potensi mereka, dengan menjadi semua menurut kesanggupan mereka, dengan memenuhi semua kapasitas mereka.


DAFTAR PUSTAKA
Schultz, D. (1991). Psikologi Pertumbuhan: Model-Model Kepribadian Sehat. Yogyakarta: PT Kanisius.

Feist, J., Feist, G.J. (2011). Teori Kepribadian. Jakarta: Salemba Humanika.







Konsep Sehat: Carl Rogers

Nama: Resti Anugrahsari
NPM: 19514092
Kelas: 2PA08




Carl. R Rogers
Carl Rogers adalah seorang psikolog yang terkenal dengan pendekatan terapi klinis yang berpusat pada klien (client centered). Rogers kemudian menyusun teorinya dengan pengalamannya sebagai terapis selama bertahun-tahun. Teori Rogers mirip dengan pendekatan Freud, namun pada hakikatnya Rogers berbeda dengan Freud karena Rogers menganggap bahwa manusia pada dasarnya baik atau sehat. Dengan kata lain, Rogers memandang kesehatan mental sebagai proses perkembangan hidup alamiah, sementara penyakit jiwa, kejahatan, dan persoalan kemanusiaan lain dipandang sebagai penyimpangan dari kecenderungan alamiah.
Rogers terkenal sebagai seorang tokoh psikologi humanis, aliran fenomenologis eksistensial, psikolog klinis dan terapis, ide-ide dan konsep teorinya banyak didapatkan dalam pengalamanpengalaman terapeutiknya. Ide pokok dari teori – teori Rogers yaitu individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup, dan menangani masalah–masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri.
Orang yang sehat menurut Rogers adalah orang yang bisa mengaktualisasikan dirinya. Aktualisasi diri terjadi berkesinambungan, tidak statis. Aktualisasi diri adalah suatu proses yang sulit dan terkadang menyakitkan. Berkembangnya konsep diri yang sehat tergantung dari pengalman masa kecil anak akan pnerimaan dan cinta kasih (ibu).
Rogers percaya bahwa orang-orang yang dibimbing oleh persepsi sadar mereka sendiri tentang diri mereka dan dunia sekitar mereka bukan oleh kekuatan-kekuatan tidak sadar yang tidak dapat mereka kontrol.
Menurut Rogers, manusia yang sadar dan rasional tidak dikendalikan oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak, seperti pembiasaan akan kebersihan, penyapihan yang lebih cepat, dsb. Akan tetapi Rogers mengemukakan bahwa pengalaman-pengalaman masa silam dapat mempengaruhi cara bagaimana kita melihat kehidupan sekarang yang pada masanya mempengaruhi tingkat kesehatan psikologis kita. Jadi, pengalaman masa kanak-kanak adalah penting, tapi fokus Rogers tetap pada apa yang terjadi sekarang bukan pada apa yang terjadi waktu itu. Rogers dikenal juga sebagai seorang fenomenologis, karena ia sangat menekankan pada realitas yang berarti bagi individu. Realitas tiap orang akan berbeda–beda tergantung pada pengalaman–pengalaman perseptualnya. Lapangan pengalaman ini disebut dengan fenomenal field. Rogers menerima istilah self sebagai fakta dari lapangan fenomenal tersebut.

Diri dan Aktualisasi Diri
                Menurut Rogers (1959), bayi mulai mengembangkan konsep diri yang samar saat sebagian pengalaman mereka telah dipersonalisasikan dan dibedakan dalam kesadaran pengalaman sebagai “aku” (“I”) atau “diriku” (“me”).
Saat bayi telah membangun struktur diri yang mendasar, kecenderungan mereka untuk aktualisasi mulai berkembang. Aktualisasi diri (self-actualization) merupakan bagian dari kecenderungan aktualisasi sehingga tidak sama dengan kecenderungan itu sendiri. Kecenderungan aktualisasi merujuk pada pengalaman organisme dari individu; sehingga hal tersebut merujuk pada manusia secara keseluruhan – kesadaran dan ketidaksadaran, fisiologis dan kognitif.

Motivasi Orang yang Sehat: Aktualisasi
Menurut Rogers motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri. Rogers menempatkan suatu dorongan -“satu satu kebutuhan fundamental”-dalam sistemnya tentang kepribadian : memeliharakan, mengaktualisasikan, meningkatkan semua segi individu. Kecenderungan ini dibawa sejak lahir dan meliputi komponen-komponen pertumbuhan fisiologis dan psikologis, meskipun selama tahun-tahun awal kehidupan, kecenderungan tersebut lebih terarah kepada segi-segi fisiologis. Kecenderungan aktualisasi memungkinkan organisme hidup terus dengan membantu dan mepertahankan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah dasar.
Akan tetapi aktualisasi berbuat jauh lebih banyak daripada mempertahankan organisme; aktualisasi juga memudahkan dan meningkatkan pematangan dan pertumbuhan. Kecenderungan aktualisasi pada tingkat fisiologis benar-benar tidak dapat diekakang; kecenderungan itu mendorong individu ke depan dari salah satu tingkat pematangan ke tingkat pematangan berikutnya yang memaksakanya untuk menyesuaikan diri dan tumbuh.
Rogers percaya bahwa manusia memiliki dorongan yang dibawa sejak lahir untuk menciptakan dan bahwa hasil ciptaan yang sangat penting adalah diri orang sendiri, suatu tujuan yang dicapai jauh lebih sering oleh orang-orang yang sehat daripada orang-orang yang sakit secara psikologis.


Konsep Diri
Konsep diri (self concept) menurut Rogers adalah bagian sadar dari ruang fenomenal yang disadari dan disimbolisasikan, dimana “aku“ merupakan pusat referensi setiap pengalaman. Konsep diri merupakan bagian inti dari pengalaman individu yang secara perlahan dibedakan dan disimbolisasikan sebagai bayangan tentang diri yang mengatakan “apa dan siapa aku sebenarnya“ dan “apa yang sebenarnya harus saya perbuat“. Jadi, self concept adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku.
Konsep diri ini terbagi menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep diri ideal. Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak, Rogers mengenalkan 2 konsep lagi yaitu:
a.      Incongruence
Incongruence adalah ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan batin.
b.      Congruence
Congruence berarti situasi dimana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan sejati.

Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang lain. Perkembangan diri dipengaruhi oleh cinta yang diterima saat kecil dari seorang ibu. Kebutuhan ini disebut need for positive regard, yang terbagi lagi menjadi 2 yaitu conditional positive regard (bersyarat) dan unconditional positive regard (tak bersyarat).
·         Jika individu menerima cinta tanpa syarat, maka ia akan mengembangkan penghargaan positif bagi dirinya (unconditional positive regard) dimana anak akan dapat mengembangkan potensinya untuk dapat berfungsi sepenuhnya.
·         Jika tidak terpenuhi, maka anak akan mengembangkan penghargaan positif bersyarat (conditional positive regard). Dimana ia akan mencela diri, menghindari tingkah laku yang dicela, merasa bersalah dan tidak berharga.
Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positif tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan.

Orang yang Berfungsi Sepenuhnya
Hal yang pertama dikemukakan tentang versi Rogers mengenai kepribadian yang sehat, yakni kepribadian yang sehat itu bukan merupakan suatu keadaan dari ada, melainkan dari proses, “suatu arah bukan sutu tujuan”.
Hal kedua mengenai aktualisasi dir yaitu merupakan suatu proses yang sukar dan terkadang menyakitkan. Hal ketiga yaitu mengeni orang-orang yang mengaktualisasikan diri, yakni mereka benar-benar adalah diri mereka sendiri.
Rogers mengemukakan lima sifat khas dari seseorang yang berfungsi penuh:
a.       Keterbukaan pada Pengalaman
Keterbukaan pada pengalaman adalah lawan dari sikap defensif. Bahwa kepribadian seseorang itu bersifat fleksibel, tidak hanya mau menerima pengalaman-pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, tetapi juga dapat menggunakannya dalam membuka kesempatan-kesempatan persepsi dan ungkapan baru. Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat dikatakan lebih “emosional” dalam artian bahwa ia mengalami banyak emosi yang bersifat positif dan negatif dan mengalami emosi-emosi itu lebi kuat dibandingkan orang yang defensif.
b.      Kehidupan Eksistensial
Orang yang sehat terbuka kepada semua pengalaman, maka kepribadian terus-menerus disegarkan oleh setiap pengalaman-pengalaman, sedangkan orang defensif harus mengubah suatu pengalaman baru untuk membuatnya harmonis dengan diri. Orang yang tidak mudah berprasangka ataupun memanipulasi pengalaman melainkan menyesuaikan diri karena kepribadiannya terus-menerus terbuka kepada pengalaman baru.
c.       Kepercayaan Terhadap Organisme Orang Sendiri
Seseorang akan Bertingkah laku menurut apa yang dirasa benar, merupakan pedoman yang sangat diandalkan dalam memutuskan suatu tindakan yang lebih dapat diandalkan daripada faktor-faktor rasional atau intelektual. Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat bertindak menurut impuls-impuls yang timbul seketika dan intuitif.
d.      Perasaan Bebas
Rogers percaya bahwa semakin seseorang sehat secara psikologis, semakin juga ia mengalami kebebasan untuk memilih dan bertindak. Orang yang sehat dapat memilih dengan bebas tanpa adanya paksaan-paksaan antara alternatif pikiran dan tindakan.
e.       Kreativitas
Semua orang yang berfungi sepenuhnya sangat kreatif. Orang-orang yang kreatif dan spontan tidak terkenal karena konformitas atau penyesuaian diri yang pasif terhadap tekanan-tekanan sosial dan kultural. Seorang yang kreatif bertindak dengan bebas dan menciptakan hidup, ide dan rencana yang konstruktif, serta dapat mewujudkan kebutuhan dan potensinya secara kreatif dan dengan cara yang memuaskan.




DAFTAR PUSTAKA
Schultz, D. (1991). Psikologi Pertumbuhan: Model-Model Kepribadian Sehat. Yogyakarta: PT Kanisius.

Feist, J., Feist, G.J. (2011). Teori Kepribadian/Buku 2. Jakarta: Salemba Humanika.